Friday, February 16, 2018

Pencemaran Logam Timbal (Pb) di Teluk Lampung

A. Pencemaran Timbal (Pb) di Teluk Lampung
Teluk Lampung merupakan daerah pesisir yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan, seperti perikanan tangkap, budidaya mutiara, pusat pariwisata, pelabuhan, pemukiman maupun kegiatan perdagangan, juga merupakan bermuaranya berbagai sungai, seperti Way Kuala, Way Lunik, Way Kahuripan dan Way Galih, yang melewati daerah perindustrian di Daerah Teluk Betung, dan Panjang, serta Way Balau yang melewati daerah padat pemukiman di Kota Karang yang perairannya terdapat banyak sampah (Tugiyono, 2007).

Berbagai kegiatan seperti diatas akan menghasilkan berbagai limbah baik organik maupun anorganik yang berpotensi terjadinya penurunan kualitas perairan Teluk Lampung. Semakin kompleknya limbah yang masuk ke perairan, tidak menutup kemungkian logam berat juga terdapat di perairan tersebut (Singh et. al. 2008). Salah satunya adalah timbal. Logam dengan rumus kimia Pb ini merupakan salah satu logam berat yang sangat berbahaya dan mudah terakumulasi di perairan. Timbal adalah logam berat yang terdapat secara alami di dalam kerak bumi. Keberadaan timbal bisa juga berasal dari hasil aktivitas manusia, yang jumlahnya 300 kali lebih banyak dibandingkan Pb alami (Lu, 1995).
Analisis kadar logam Pb yang dilakukan oleh Tugiyono (2007) menunjukkan, secara keseluruhan telah terjadi peningkatan kadar logam Pb di lumpur sebesar 54,79 %. Peningkatan kadar logam Pb juga terjadi di daging kerang hijau (Perna viridis) sebesar 14%. kadar Pb terbesar terdapat di lokasi Muara Way Lunik dan Way Kuala di Kalurahan Panjang Utara dan Panjang Selatan Kecamatan Panjang Kota Bandar Lampung dan terendah di Pantai Mutun Desa Gebang Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Lampung Selatan.

B. Sumber Pencemaran  Timbal (Pb)
Sumber logam berat adalah berasal dari:
1.    Limbah rumah tangga yang berasal dari sampah-sampah metabolik, korosi pipa-pipa air misalnya Cu, Pb, Zn dan Cd (Singh et. al., 2008).
2.    Limbah atau buangan industri baik berasal dalam cairan limbah yang berhubungan secara khusus dalam proses produk tertentu, penimbunan dan pencucian lumpur industri (Akiyoshi  et. al., 2006).
3.    Pembakaran bahan bakar yang mengandung limbah hitam termasuk transportasi baik darat maupun laut yang masuk melalui air hujan (Tugiyono, 2007)
4.    Aktivitas pertanian yang berasal dari erosi tanah yang kaya akan logam yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan dan hewan, pupuk fosfat, herbisida, fungisida, serta melalui pemakaian cairan limbah atau lumpur sebagai pupuk (Akiyoshi et. al., 2006).
Tingginya kadar logam di muara Way Lunik dan Way Kuala disebabkan karena, lokasi tersebut merupakan kawasan yang padat pemukiman, kawasan industri, dan kawasan perkotaan di Kecamatan Panjang dan Teluk Betung Selatan. Kawasan-kawasan tersebut menyumbangkan limbah rumah tangga dan aliran perkotaan yang mengandung cukup besar logam ke dalam ekosistem perairan yang berasal dari sampah-sampah metabolik dan korosi pipa-pipa air. Limbah industri juga memberikan sumbangan melalui aliran limbah demikian juga dengan penimbunan dan pencucian lumpur industri (Tugiyono, 2007).

C. Dampak Lingkungan Akibat Pencemaran Timbal (Pb)
Penurunan kualitas perairan akan berpengaruh terhadap kehidupan biota yang hidup didalamnya, peningkatan konsentrasi logam berat di lautan dapat mengakibatkan perubahan kualitas serta struktur perairan, membunuh organisme, bahkan dapat membahayakan kesehatan organisme hidup lainnya yang memakan organisme tersebut karena residu logam berat. Manusia yang mengonsumsi makanan laut terkontaminasi dapat menyebabkan keracunan dalam jangka pendek, dan kanker dalam jangka panjang (Rivai, 2002).
Teluk Lampung merupakan wilayah yang kaya akan berbagai organisme mulai dari tingkatan yang terendah dalam tingkatan tropik yaitu produsen seperti plankton, ganggang laut, sampai tingkatan yang tertinggi yaitu ikan. Dengan demikian akan terjadi pemekatan kandungan bahan pencemar dalam hal ini logam berat yang meningkat sejalan dengan meningkatnya tingkatan sistem makanan  atau proses biomagnifikasi. Sehingga dalam tubuh organisme-organisme air akan terjadi peningkatan akumulasi logam berat (Lestari dan Edward. 2004).

DAFTAR PUSTAKA

Lestari dan Edward. 2004. Dampak Pencemaran Logam Berat Terhadap Kualitas Air Laut dan Sunberdaya Perikanan (Studi Kasus Kematian Massal Ikan-Ikan di Teluk Jakarta). Makara Sains, Vol. 8, No. 2 : 52-58.

Lu Frank C. 1995. Toksikologi Dasar. Penerjeh: Edi Nugroho. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).

Rivai, 2002. Bioakumulasi logam (Pb, Cd, Cu dan Zn) dalam kulit serta daging beberapa jenis makanan laut. Jurnal Sains dan Teknologi, Vol. 5:115-122.

Akiyoshi, S., Hirose Masanao, Kusumoto Yoshifumi, Kurawaki Junichi and Hayakawa Katamitu. 2006. Hybrid ceramic beads synthesized from natural minerals and Titanium dioxide for cleaning waste water. Journal Chem. Environ. Vol. 10, No. 2.

Singh, D., G. Keshker and A. Kumar Jangde. 2008. Study Of Water Quality Parameters and Pb and Cd Concentration Distribution In The Hasdeo River In Korba (India). Journal of Environmental Research And Development. Vol. 3, No. 1 : 185-190.


Tugiyono. 2007. Bioakumulasi Logam Hg dan Pb Di Perairan Teluk Lampung, Propinsi Lampung. Jurnal Sains MIPA, Edisi Khusus, Vol. 13, No. 1 : 44 – 48.

No comments:

Post a Comment